Pembicaraan tentang prestasi olahraga biasanya dimulai dari pelatnas dan anggaran federasi. Padahal mata rantai paling awal ada jauh sebelum itu: anak-anak yang punya tempat bermain setiap sore.
Lapangan kampung yang dulu jadi titik kumpul kini banyak berubah menjadi ruko, tempat parkir, atau perumahan. Yang hilang bukan hanya rumputnya, melainkan kebiasaan berkumpul dan berlatih tanpa biaya.
Ketika olahraga menjadi berbayar
Ketika ruang gratis menyusut, olahraga berpindah ke lapangan sewa. Satu jam sewa mungkin terasa murah bagi sebagian keluarga, tetapi menjadi penghalang nyata bagi yang lain. Akibatnya bakat tidak lagi tersaring dari seluruh anak, melainkan dari yang mampu membayar.
Bibit tidak muncul tiba-tiba
Atlet yang berlaga hari ini adalah anak-anak yang bermain sepuluh sampai lima belas tahun lalu. Keputusan tentang ruang bermain hari ini baru akan terlihat hasilnya satu dekade mendatang, dan itulah yang membuatnya mudah ditunda.
Artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami konteks sebuah isu. Bila menemukan kekeliruan, sampaikan kepada redaksi melalui kanal kontak.
Komentar
Belum ada komentar yang tayang. Jadilah yang pertama.