Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo menjadi perhatian publik. Peristiwa ini mengingatkan pada sejumlah kasus penyadapan terhadap pemimpin negara di berbagai negara.

Penyadapan terhadap kepala negara bukan hal baru. Beberapa kasus pernah terungkap melalui dokumen intelijen yang bocor, laporan media, hingga pengumuman resmi pemerintah.

Di Indonesia, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah dikaitkan dengan pemantauan komunikasi oleh intelijen Australia. Sejumlah pemimpin dunia lainnya, seperti Angela Merkel hingga Emmanuel Macron, juga pernah muncul dalam laporan serupa.

Kacau! Sebelum Prabowo, SBY hingga Presiden Prancis Pernah Jadi Sasaran Penyadapan Intelijen Asing

1. SBY dan Ani Yudhoyono

Kasus ini terungkap pada November 2013 setelah dokumen rahasia yang dibocorkan mantan kontraktor intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden, dipublikasikan media Australia.

Dokumen tersebut menyebut intelijen Australia memantau aktivitas ponsel SBY selama 15 hari pada Agustus 2009. Nama Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Jusuf Kalla, dan sejumlah pejabat lain juga masuk dalam daftar pemantauan.

Pengungkapan tersebut membuat hubungan Indonesia dan Australia memanas. Pemerintah Indonesia menarik duta besarnya untuk berkonsultasi dan menghentikan sementara pertukaran informasi intelijen serta latihan militer bersama.

2. BJ Habibie

Mantan Presiden BJ Habibie pernah menjadi sorotan setelah percakapan teleponnya dengan Jaksa Agung Andi Ghalib pada 10 Desember 1998 terekam.

Transkrip percakapan tersebut kemudian diterbitkan di majalah Panji Masyarakat pada 24 Februari 1999. Namun, hingga kini pihak yang merekam percakapan itu tidak diketahui.

3. Angela Merkel

Pada Oktober 2013, laporan berdasarkan dokumen rahasia NSA yang dibocorkan Edward Snowden menyebut nomor ponsel mantan Kanselir Jerman Angela Merkel masuk dalam daftar target pemantauan sejak 2002.

Pada 2021, sejumlah media Denmark juga melaporkan dugaan keterlibatan NSA dalam penyadapan komunikasi Merkel melalui jaringan kabel internet Denmark pada 2012–2014.

4. Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande

Pada Juni 2015, WikiLeaks merilis dokumen yang memuat dugaan penyadapan NSA terhadap tiga mantan Presiden Prancis, yaitu Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande.

Dokumen tersebut menyebut pemantauan berlangsung setidaknya sejak 2006 hingga Mei 2012. Sejumlah komunikasi yang menjadi perhatian berkaitan dengan krisis keuangan dunia dan krisis utang Yunani.

5. Dilma Rousseff dan Enrique Peña Nieto

Dokumen rahasia NSA yang dibocorkan Edward Snowden pada 2013 juga mengungkap dugaan pemantauan komunikasi Presiden Brasil Dilma Rousseff.

Selain itu, NSA dilaporkan membaca surat elektronik Enrique Peña Nieto pada Juni 2012, sebulan sebelum ia resmi menjadi Presiden Meksiko. Pesan tersebut berisi sejumlah nama calon anggota kabinetnya.

6. Pedro Sánchez dan Emmanuel Macron

Teknologi penyadapan juga berkembang melalui perangkat lunak mata-mata atau spyware, salah satunya Pegasus buatan NSO Group.

Pada Mei 2022, pemerintah Spanyol mengumumkan bahwa ponsel Perdana Menteri Pedro Sánchez telah disusupi Pegasus sebanyak dua kali pada Mei 2021. Pemerintah menyebut penyusupan tersebut dilakukan secara ilegal dan tanpa izin pengadilan.

Sementara itu, investigasi Pegasus Project pada Juli 2021 menemukan nomor telepon Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam daftar calon target Pegasus. Namun, hal tersebut tidak membuktikan bahwa ponselnya benar-benar disadap.

Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa dugaan penyadapan terhadap pemimpin negara pernah terjadi dengan metode dan latar belakang yang berbeda. Pengungkapannya bahkan dapat memicu persoalan hukum hingga ketegangan hubungan antarnegara.

Bagikan artikel ini
Catatan redaksi

Artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami konteks sebuah isu. Bila menemukan kekeliruan, sampaikan kepada redaksi melalui kanal kontak.